Mega Proyek Pembangkit Listrik 35.000 MW, Realistis ?

Presiden Jokowi telah mencanangkan program pembangunan pembangkit listrik 35000 MW dalam kurun waktu 5 tahun. Banyak pro-kontrak terhadap program ini. Ada yang mengatakan tidak realistis, mimpi, dan banyak masalah. Ada juga yang mengatakan on-progress, optimis, hingga sedikit ngeles bahwa 35000 itu kebutuhan dan bukan target. Lalu mana yang benar?

Mega proyek pembangkit listrik 35000 MW akan sangat bermanfaat dan banyak menyelesaikan banyak persoalan terkait energi di Indonesia. Program mega proyek ini benar-benar luar biasa. Bagaimana tidak? perlu diketahui bahwa ketersediaan listrik hingga saat ini adalah 43000 – 45000 MW hasil jerih payah selama puluhan tahun sejak merdeka lengkap dengan segala permasalahan klasiknya yang dominan adalah pembebasan lahan dan perijinan yang butuh waktu 6 tahun. Kita juga punya sejarah mega proyek sebelumnya yang jauh lebih kecil yaitu 10000 MW yang ternyata jauh dari kata berhasil. Tak heran banyak pihak yang pesimis alias tidak yakin program ini akan berjalan dengan baik.

Ada beberapa pihak lain yang justru optimis dengan dasar bahwa program ini sejatinya on-progress terhadap program. Salah satu buktinya yaitu pembangkit yang sudah tahap konstruksi adalah 7400 MW. Pemerintah juga telah memiliki 8 kiat untuk mempercepat terlaksananya mega proyek ini dengan baik. Namun dengan kenyataan banyaknya permasalahan yang ada, semakin banyak pihak yang meragukan keberhasilan program ini. Bahkan Presiden Jokowi pun sempat terindikasi mulai pesimis ketika menyatakan bahwa 35000 itu kebutuhan dan bukan target (sumber wartaekonomi.co.id 27 Mei 2015). Lengkap dengan kalimat bersyarat bahwa mega proyek itu akan berhasil JIKA tak terganggu ijin dan lahan. Lho…

 

Gambar 1. Kiat mempercepat mega proyek 35000 MW

Disini terlihat bahwa pemerintah itu dalam membuat program tidak dengan perhitungan yang matang. Untuk membangun itu jelas butuh berbagai syarat. Selain perijinan dan lahan, syarat2 itu adalah resources, pendanaan dan supporting infrastruktur lain seperti jaringan listrik. Kesemuanya itu (capital indsutri kelistrikan) dapat dinyatakan dengan parameter kecepatan pengadaan listrik tahunan atau 5 tahunan. Jika program 10000 MW tidak berhasil dalam kurun waktu 5 tahun alias 2000 MW per tahun masih susah payah, apalagi 7000 MW (35000 MW dalam 5 tahun)?

Jika kita anggap tingkat keberhasil program 10000 MW hanya 75% atau terealisasi baik hanya 7500 MW dalam 5 tahun, maka kecepatan pengadaan listrik rata2 hanya 1500 MW per tahun. Maka itu berarti kecepatan pengadaan listrik akan naik sebesar hampir 4x lipat atau 400%. Kita ketahui bahwa parameter kecepatan pengadaan listrik itu dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat dikatakan capital kelistrikal kita disamping faktor2 lainnya seperti kondisi sosial masyarakat dan birokrasi. Capital meliputi segala resources yang tersedia seperti :

  • Jumlah supplier peralatan pembangkit
  • Jumlah pegawai / orang yang memiliki kemampuan yang diperlukan dalam mengerjakan mega proyek dan termasuk operator yang kompeten
  • Jumlah kontraktor yang mampu secara teknis
  • Pendanaan proyek
  • Ketersediaan bahan bakar
  • Material dan peralatan utama proyek
  • Jaringan listrik untuk mengalirkan listrik dari pembangkit
  • Dll

Menaikkan kapasitas menjadi 4x jelas bukan perkara gampang apalagi belum ada bukti.Tapi yang jelas adalah, mencetak SDM berkualitas yang kompeten itu butuh waktu yang tidak sedikit dan bukan dalam hitungan bulan. Menjadikan kontraktor memiliki pengalaman memadai secara teknis juga butuh waktu panjang setidaknya 3-5 tahun paling cepat. Begitu juga untuk membangun industri peralatan terkait pembangkit yang butuh penguasaan teknologi dan juga SDM yang jelas bukan hitungan bulan. Lalu menyediakan dana sebesar 800-1000 triliun untuk mega proyek ini harus melalui kajian yang mendalam terkait kemampuan lembaga keuangan atau perbankan kita. Hal ini mengingat angka yang sangat besar.

Tidak disitu saja, kondisi sosial yang menjadi penghambat utama dalam pembebasan lahan adalah faktor utama lain yang kritis. Perlu ada strategi brilian dalam memecahkan persoalan ini yang jauh dari kata strategi pencitraan yang sekarang menjamur.Selanjutnya masalah perijinan pembangkit yang membutuhkan waktu 6 tahun adalah jelas wajah kusam birokrasi kita yang entah siapa yang harus bertanggung jawab. Bisakah 6 tahun itu menjadi cukup beberapa bulan demi mega proyek 35000 MW? Tentu pemerintah juga harus punya jawaban strategi brilian lain.

Gambar 2. Sebaran program 35000 MW

Pemerintah juga (mestinya) berhitung matang akan risiko-risiko suatu mega proyek. Seperti nilai import mesin pembangkit yang mungkin akan mempengaruhi nilai defisit transaksi berjalan yang akhirnya akan mempengaruhi nilai kurs. Lalu dampak inflasi akibat pergeseran supply – demand atas naiknya kecepatan pengadaan listrik yang signifikan, risiko keterlambatan pelaksanaan akibat masih kurang baiknya infrastruktur di Indonesia dalam men”deliver” kelancaran pengiriman material dan alat ke lokasi proyek dan risiko yang harus ditanggung pemerintah akibat kegagalan proyek jika risiko-risiko tidak mampu diatasi serta risiko-risiko lainnya.

Sederet mega PR untuk suatu mega proyek prestisius di atas, apakah telah dikalkulasi dengan baik? Direncanakan dengan planing yang matang? dikoordinasikan dengan rapi? didukung dengan serius dan fokus? Pengalaman mega proyek yang lebih kecil yaitu 10000 MW telah membuktikan bahwa kita hanya bisa berwacana, namun tidak konsisten secara aktual akibat lemahnya perencanaan mega proyek yang dicanangkan.

Akhirnya, mega proyek ini mestinya baik untuk masyarakat, namun jika tidak direncanakan dengan baik, tentu akan berakibat pada masyarakat itu sendiri. Banyaknya PR di atas harus diatasi bersama dengan baik dibawah koordinasi pemerintah agar tak dikatakan mimpi, bohong, dan pencitraan (lagi).

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Proyek Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>