Kenapa Manajemen Proyek di Indonesia Cenderung Stagnan?

Posting sebelumnya telah dijelaskan bentuk riel kompleksitas proyek konstruksi dan implikasi potensialnya pada perusahaan konstruksi. Kelanjutannya adalah bagaimana mengatasi dan mengelola kompleksitas proyek tersebut. Untuk menjawab itu, perlu dianalisis sederhana dan diajukan hipotesa penyebabnya. Mungkin ini adalah pertanyaan sejuta umat praktisi konstruksi dari dulu hingga saat ini. Sungguh bukan pertanyaan biasa-biasa saja dan jawabannya juga perlu penjelasan panjang.

Pada posting berjudul Kompleksitas proyek konstruksi dan implikasi seriusnya, telah dijelaskan secara sederhana dan gamblang bagaiaman wujud nyata kompleksitas proyek dan implikasi seriusnya yang umumnya adalah fakta yang kita lihat.

Apa akar penyebab dan bagaimana mengelolanya adalah pertanyaan sepanjang masa bagi praktisi konstruksi karena kompleksitas itu cenderung dinamis. Bagi perusahaan konstruksi, adalah SANGAT PENTING memahami konsep bahwa COMPLEXITY  harus dikelola (MANAGE) sesuai dengan tingkat / level dari kompleksitas itu sendiri. Sederhananya, jika complexity sangat tinggi dengan kapasitas pengelolaan yang rendah, tentu akan menyebabkan kompleksitas itu menjadi tidak dapat dikelola dengan baik. Dampak logis adalah banyak masalah yang tidak mampu untuk ditangani dengan baik. Lebih lanjut, proyek menjadi bermasalah. Semakin lama tidak teratasi, maka proyek akan semakin bermasalah. Untuk dapat mengelolanya, tentu saja kita harus memahami key factors of project compexity itu sendiri.

 

Konsep Project Complexiy

Pada dasarnya, ada banyak sekali faktor kompleksitas proyek. Namun secara prinsip, ada lima komponen utama seperti referensi yang dijadikan rujukan yaitu buku “Guidebook : Project Management Strategies for Complex Project” , yaitu :

  1. Biaya (estimasi proyek, ketidakpastian, contigency, project-related cost, dan project cost drivers and constraints)
  2. Waktu (waktu, risiko waktu, milestone, ketersediaan resources)
  3. Teknis (Lingkup, struktur internal, kontrak, design, konstruksi, teknologi, neture of constraints)
  4. Konteks (Stakeholders, project-specific issues, isu2 lokal, lingkungan, aspek legal / legislatif, global / nasional, kejadian yang tidak diinginkan)
  5. Finansial (pendanaan publik, pendanaan atas arus pendapatan akan datang, eksploitasi nilai aset, metode finance-driven project delivery, tingkat inflasi yang berbeda, estimasi komoditas)

Terdapat begitu banyak faktor ternyata. Sekarang mari kita lihat framework dalam mengelola project yang terdapat pada gambar dibawah ini sebagai framework standart yang nanti dihubungkan dalam mengelola kompleksitas proyek :

Gambar 1. Project Management Plan Overview

Berdasarkan framework dan elemen kompleksitas, maka dapat dinilai hubungan antara keduanya seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini :

Gambar 2. Hubungan dimensi kompleksitas dan project management framework

Terlihat jelas bahwa memahami dan identifikasi critical success factor adalah elemen framework project management yang paling penting karena mencakup seluruh aspek project complexity. Seluruh elemen project complexity harus didefinisi faktor kritisnya karena akan menjadi bekal utama dalam menentukan tim proyek dan langkah2 utama selanjutnya.

 

Project Complexity Assessment

Langkah penting dalam mengelola project complexity adalah menilai tingkatannya. Dimana harus dipahami bahwa level of project complexity selalu berubah berdasarkan project stage seperti yang dicontohkan pada gambar dibawah ini :

 

Gambar 3. Cara Penilaian Kompleksitas Tiap Elemen

 

Gambar 4. Project Complexity Map

Gambar diatas menunjukkan bahwa kompleksitas proyek pada tiap aspek akan berbeda-beda. Berikutnya akan dilihat bagaimana suatu survey menunjukkan perubahan tingkat kompleksitas proyek pada tiap fase proyek.

 

Gambar 4. Perubahan level of project complexity pada tiap project phase

 

Memahami level kompleksitas dan perubahannya sepanjang waktu akan sangat membantu manajemen dalam menentukan personil proyek. Terlihat bahwa umumnya project complexity level berada pada level tertinggi pada awal proyek dan perlahan2 turun setelahnya. Fakta ini penting dalam organisasi dan pengelolaan proyek. Ini juga menjadi jawaban kenapa tender yang tidak dikelola baik akan menghasilkan proyek bermasalah alias project complexity justru meningkat pada fase berikutnya karena terjadi pergeseran nilai kompleksitas ke fase berikutnya.

Sungguh ironi atas fakta yang terjadi pada kebanyakan perusahaan konstruksi di Indonesia bahwa project management yang diaplikasikan justru berkebalikan dengan yang seharusnya berdasarkan kajian pada buku ini, yaitu :

  • Hanya sedikit yang menjadikan konsep critical success factors sebagai tools yang powerful yang mendasar dalam mengelola project complexity. Kebanyakan cenderung tidak mengerti, menganggap bertele-tele, bahkan lepas tangan. Ini terbukti bahwa konsep critical success factors hampir tidak menjadi tools yang sering digunakan pada standart manajemen proyek mereka.
  • Suatu kenyataan bahwa umumnya manajemen proyek konstruksi di Indonesia menilai fase penting proyek adalah pada saat / fase konstruksi, dan bukan fase planning / tender. Terbukti bahwa personil proyek lebih diutamakan dari pada personil planning / tender. Konsep berfikir mereka umumnya adalah desentralisasi manajemen proyek ke project manager. Sehingga perencanaan proyek saat tender menjadi dianggap tidak lebih penting dari pada perencanaan eksekusi pelaksanaan proyek itu sendiri. Konsep ini berbeda dengan perusahaan konstruksi di Jepang yang menetapkan aspek planning begitu tinggi terutama saat tender.
  • Suatu fakta pula bahwa keberhasilan dan kegagalan proyek dianggap murni oleh tim proyek karena konsep otorisasi dan faham mereka memang menganggap kompleksitas pelaksanaan konstruksi adalah yang paling tinggi. Padahal mereka tidak menyadari bahwa  kompleksitas fase pelaksanaan konstruksi hanyalah dampak dari tidak dikelolanya kompleksitas proyek dengan baik pada saat fase planning / tender.

 

Ternyata, salah satu penyakit kronis tentang kondisi manajemen proyek Indonesia dapat dijawab dengan konsep project complexity. Menarik sekali untuk menghubungkan kesimpulan ini dengan nature dan culture manajemen proyek di Indonesia yang sangat kompleks dimana budaya reaktif dan kurang detail di planning sangat mendominasi. Hal ini karena kedua konsep tersebut seperti memiliki hubungan yang erat sekali. Barangkali ini adalah suatu hipotesa yang masih perlu untuk diperdebatkan dalam menjawab akar masalah problem manajemen konstruksi di Indonesia. Jika teruji secara ilmiah, tentu kita telah menjawab pertanyaan sejuta umat, hehe…

Ini adalah output analisis sederhana yang menurut saya sangat penting dalam menentukan strategi terbaik dalam merencanakan / planning atas pengelolaan project complexity itu sendiri yang akan dibahas pada tulisan berikutnya.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

 

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Proyek and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>