Post-Tensioning Slab : Solusi Masa Depan High-Rise Building Indonesia

Keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia telah menghasilkan banyak gedung tinggi. Namun seiring waktu, perkembangan kota telah membuat lahan semakin terbatas. Gedung dituntut harus semakin tinggi, semakin ekonomis, namun cepat pelaksanaannnya. Post-Tensioning Slab (PT-Slab) adalah salah satu yang mampu menjawab tuntutan itu.

A.  Metode PT Slab

PT slab adalah suatu metode dalam pemberian tegangan internal pada beton pelat lantai, di mana pemberian tegangan dilakukan setelah beton dicor dan memiliki kekuatan yang cukup untuk menahan tegangan yang diberikan. Pemberian tegangan tersebut dilakukan dengan cara menarik tendon dengan alat penarik. Setelah penarikan tendon mencapai tegangan yang direncanakan, tendon diangkur agar tegangan yang dihasilkan tetap ada (lihat Gambar 1).

 

Gambar 1. Mekanisme PT Slab

Metode PT Slab adalah suatu teknologi yang telah berkembang sejak 30 tahun yang lalu. Akan tetapi teknologi ini masih jarang diaplikasikan di Indonesia karena dulu dianggap kurang feasible atas biaya, di samping beberapa problem teknis yang masih ada. Namun perkembangan teknologi terbaru telah membuatnya menjadi lebih feasible. Hal ini terindikasi pada semakin banyaknya aplikasi metode PT Slab pada gedung tinggi di luar negeri. Berikut beberapa mega project dengan aplikasi metode PT Slab:

  • The Shard – London
  • Wynn Casino – Macau
  • Capricorn Plaza – Dubai
  • Legend Plaza – Dubai
  • Pacific Place – Hongkong
  • Venetian Macau Resort Hotel – Macau
  • Int’l Commerce Centre – Hongkong
  • The Address Boulevard – Dubai
  • Prime Tower – Dubai
  • One Beach Ocean – California

Gambar 2. The Address Boulevard (kiri), International Commerce Centre (tengah), dan The Shard (kanan)

B. Keunggulan Teknis dan Pelaksanaan PT Slab

Teknologi PT Slab memiliki beberapa keunggulan secara teknis dan pelaksanaan. Dari beberapa referensi, dapat disimpulkan yang utama antara lain:

  • Bentang Lebih Panjang. PT memungkinkan pelat dengan bentang yang lebih panjang sehingga dapat mengurangi jumlah kolom dan memperbesar area lantai.
  • Berkurangnya Tinggi Antar Lantai. Untuk beban hidup yang sama, pelat PT dapat lebih tipis dibanding pelat bertulang konvensional. Berkurangnya tebal pelat memungkinkan tinggi bangunan minimum sehingga menghemat biaya façade dan menguntungkan traffic spaces (car park)
  • Desain Balok, Kolom dan Pondasi Lebih Hemat. Berkurangnya beban mati lantai dapat berdampak pada desain kolom dan pondasi beton bertulang yang lebih ekonomis. Volume material beton, besi, dan bekisting, hingga pondasi akan ikut berkurang.
  • Bebas Lendutan. Lendutan yang tidak diinginkan sebagai akibat dari beban layan hampir dapat dihilangkan. Peluang retak akibat lendutan ikut berkurang signifikan.
  • Beton Kedap Air. Pelat PT dapat didesain crack-free sehingga dimungkinkan kedap air.
  • Pelepasan Bekisting Lebih Awal. Pelepasan bekisting yang lebih awal dan pengurangan penggunaan shoring memungkinkan siklus konstruksi dan penggunaan bekisting yang lebih cepat.
  • Penanganan Material Lebih Mudah. Berkurangnya kuantitas material beton dan tulangan menguntungkan penggunaan on-site crane. Kekuatan tendon PT kira-kira 4 kali tulangan konvensional, sehingga total tulangan dapat banyak dikurangi.

 

C. Keuntungan Pada Aspek Biaya

Keunggulan teknis dan pelaksanaan membuat PT Slab memiliki keuntungan secara biaya. Untuk membandingkan PT Slab dan beton bertulang biasa, biaya yang harus dipertimbangkan meliputi biaya material beton, tulangan, tendon PT, bekisting, dan termasuk biaya tak langsung serta peralatan. Berikut adalah tiga penelitian yang membuktikan penghematan atas PT Slab.

1. Sebuah survey terhadap sistem lantai RC dan PT dilakukan oleh Portland Cement Association tahun 1982. Penelitian dilakukan dgn cara membandingkan suatu pelat lantai yang semula didesain dengan metode biasa dengan metode PT Slab dengan dua variasi desain. Hasilnya terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Perbandingan Biaya Sistem Lantai RC dan PT (Gupta & Watry, 2012)

Terlihat bahwa aplikasi PT Slab dapat memberikan cost reduction sebesar 13,8 – 23,1%

 

2. Penelitian ke-2 menunjukkan Pelat PT dapat dianggap memiliki cost-effective yang cukup ketika bentangnya melebihi 7,0 meter.

3. Penelitian ke-3 merupakan suatu studi kasus di mana kontraktor melakukan VE yang mengubah desain lantai awal menjadi PT Slab pada proyek Legend Plaza, Dubai. Adapun disain asli berupa Hordy Slab System dengan tebal 380 mm dan dengan boundary beams. Desain ini diubah menjadi PT flat slab dua arah tebal 220 mm tanpa boundary beams. Keuntungan VE ini totalnya lebih dari $ 1 juta yang berupa :

  • Pengurangan volume tulangan 70%, beton 13%, dan bekisting hingga 25%
  • Siklus per lantai yang lebih cepat dan kemudahan instalasi akibat hilangnya balok memberikan keuntungan waktu penyelesaian yang lebih cepat hampir tiga bulan
  • Waktu pelaksanaan yang lebih cepat memberikan keuntungan tambahan atas overhead dan peralatan serta plant sekitar 15%

Beberapa hasil penelitian dan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa aplikasi PT Slab dapat memberikan cost reduction yang signifikan apabila dilakukan pada bentang cukup panjang dan juga dilakukan perubahan sistem pelat menjadi flat-slab system. Penghematan total diperkirakan sebesar 5% – 15% atas keseluruhan biaya proyek.

 

D. Keuntungan Pada Aspek Waktu

Keunggulan teknis PT Slab terutama pada berkurangnya volume material dan durasi pelepasan bekisting memberikan keuntungan pada aspek waktu pelaksanaan. Hal ini terlihat pada dua penelitian berikut ini :

  1. Penelitian pada gedung Strata SEI di London. Gedung ini merupakan gedung residensial 41 lantai PT setinggi 147 m. Penelitian ini membandingkan biaya atas tiga sistem pelat lantai yaitu PT: flat slab post-tensioned concrete, RC1: flat slab reinforced concrete, dan RC2: slab with drop beams all in reinforced concrete. Hasil estimasi siklus lantai adalah 5 hari (PT Slab), 6,5 hari (RC1), dan 8,5 hari (RC2). Siklus aktual yang berhasil dicapai untuk pelat PT adalah 4,5 hari  secara rata-rata.
  2. Dalam penelitiannya pembangunan kantor multi lantai dengan sistem PT Slab, Cross (2014) juga menyatakan bahwa lantai dengan sistem PT memiliki siklus lantai tipikal 5 hari untuk tiap 1000 m2 lantai. Berikut cycle time tipikal pada PT Slab:

Tabel 2. Cycle Time Tipikal untuk PT Slab (Cross, 2014)

Penelitian di atas menyimpulkan cycle time tiap lantai adalah 4,5 – 5 hari untuk luasan 1000 m2. Sedangkan pengalaman pelaksanaan pada sistem balok – pelat menunjukkan cycle time sekitar 8 – 8,5 hari/lantai. Sehingga PT Slab dapat mempercepat waktu 2 – 4 hari / lantai. Jika PT Slab diaplikasikan pada dua calon gedung tertinggi di Indonesia yaitu Signature Tower (111 lantai)  dan Pertamina Energy Tower (99 lantai) maka percepatan waktu mencapai 7-14 bulan.

 

E.  Kesimpulan

Berbagai hasil riset dan penjelasan diatas menunjukkan keunggulan teknis dan pelaksanaan PT Slab yang memberikan keuntungan atas biaya dan waktu yang cukup signifikan pada gedung tinggi. Sehingga tidak berlebihan jika metode ini akan menjadi solusi masa depan bagi konstruksi gedung high-rise building di Indonesia.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

Referensi

Bijan, A.. 2007. Critical Milestones in Development of Post-Tensioned Building. San Fransisco: Concrete International

Cross, E. 2011. Post-Tensioning in Building Structures. Post-Tensioning Institute of Australia.

Goldsworthy, M. Post Tensioned Slabs in High-Rise Construction. Freyssinet Building Asia Region.

Gupta, P. R dan Watry, C. N. 2012. Sustainable Design of Buildings by Post-Tensioning Concrete. Phoenix, Arozona: Concrete International.

Hayek, S. dan Kalil, S. 2011. A Project-Based Comparison between Reinforced and Post-Tensioned Structures from A Sustainability Perspective. Prague Symposium.

Martter, R. P. 1965. Post-tensioned Concrete for High-rise Apartments. California: The Aberdeen Group.

Roy, P. 2008. Prestresses Concrete in Building: Advantages and economics. Artikel dalam NBM&CW Magazine. New Delhi: NBM Media.

Wikipedia Indonesia

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Teknik Sipil and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>