Kondisi Etika Profesi Insinyur Indonesia

Etika profesi Insinyur seolah menjadi hal sangat krusial bagi Insinyur Indonesia saat ini. Betapa tidak? Trend kegagalan konstruksi, rendahnya inovasi konstruksi, minimnya kampus yang memasukkan etika profesi insinyur ke dalam kurikulumnya, tingginya kasus korupsi dan suap di konstruksi mungkin sebagian sebab yang cukup menjadi alasan utama. Tulisan ini mengupas fakta aplikasi terkait etika profesi Insinyur di Indonesia.

Sebagai benchmarking, etika profesi insinyur Indonesia yang dibuat oleh Persatuan Insinyur Indonesia dapat menjadi acuan dalam pembahasan masalah pada topik kali. Berikut adalah kode etik Insinyur PII :

Kode Etik PII

Kode etik di atas, rasanya sudah cukup lengkap dan baik untuk dijadikan acuan bagi para insinyur ataupun calon insinyur Indonesia. Sayang, kenyataan berkata lain karena pemenuhan kode etik tersebut masih jauh dari cukup. Berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai potret etika profesi insinyur di Indonesia.

 

A. Trend Kegagalan Konstruksi

Beberapa kasus kegagalan konstruksi yang pernah penulis angkat seperti keruntuhan jembatan kukar, dan masalah jembatan Siak III, ternyata harus ditambah dengan sederet masalah berat konstruksi lainnya, yaitu :

  • Kegagalan konstruksi proyek Hambalang
  • Differential settlement di Stadion Gede Bage
  • Miringnya pada kantor bupati Rokan Hilir
  • Ambruknya struktur bangunan Hanggar pesawat di Makassar (Maret 2014)
  • Keruntuhan rukan Cendrawasih di Samarinda (Juni 2014)
  • Ambruknya jembatan penghubung gedung perpustakaan daerah DKI (November 2014)
  • Ambruknya jembatan Kapuas Timpah (April 2009)
  • Miringnya kantor bupati Tolikara (2014)

Sebagai praktisi konstruksi, saya juga merasa khawatir dengan permasalahan ini. Tentu saja, pasti ada sebab dari semuanya yang cenderung dari aspek etika profesi Insinyur. Unsur kehati2an dan keselamatan sering terpinggirkan. Bahkan masih ada pelaksana konstruksi yang dengan sengaja mengurangi jumlah besi tulangan demi menambah keuntungan. Modus ini, jujur saja masih terjadi hingga sekarang.

 

B. Rendahnya Inovasi Konstruksi

Insinyur haruslah mengembangkan kemampuannya dalam berkarya sebagai salah satu bagian adari etika profesi insinyur. Namun, kenyataannya bahwa konstruksi Indonesia kerap digambarkan sebagai sektor yang kurang inovatif.  Kurang inovatifnya industri konstruksi adalah salah satu cermin bagi para insinyur kita yang kurang dalam meningkatkan kemampuan profesionalnya.

Menurut Bimo Soemardi (2008), hal ini disebabkan karkateristik konvensional industri konstruksi itu sendiri yang menyebabkan kurangnya dinamika dan inovasi.  Sexton, et al. (2007) menyebutkan tiga hal yang oleh kalangan umum dianggap sebagai penyebab terhambatnya inovasi di industri konstruksi:

1)      Karakteristik industri konstruksi yang lebih berorientasi pada proyek.  Berbeda dengan industri manufaktur misalnya, karena waktunya sangat terbatas proyek-proyek konstruksi tidak berlangsung dalam proses yang menerus, tetapi lebih berujud segmentasi yang tidak menyatu dari satu proyek ke proyek lainnya.

2)      Struktur industri yang terbatas.  Perusahaan konstruksi pada umumnya tidak mempunyai sumberdaya yang banyak, tetapi lebih mengandalkan “outsourcing” untuk memenuhi kebutuhan akan SDM.  Hal ini menyebabkan interaksi di antara orang-orang yang terlibat dalam proses konstruksi menjadi tidak cukup terwadahi.  Selain itu struktur industri yang tersegmentasi menyebabkan kesempatan untuk menumbuhkan inovasi melalui struktur rantai pasok yang dibentuk dari hubungan jangka panjang antara pelaku di industri sulit terwujud.

3)      Perilaku hubungan adversial di antara pelaku konstruksi yang di dasarkan pada kontrak kerjasama jangka pendek yang diperebutkan melalui proses tender yang sangat kompetitif.

Di luar ketiga hal tersebut hambatan inovasi diperparah dengan kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan konstruksi pada umumnya sangat konservatif dan kurang memperhatikan riset dan pengembangan, sebaliknya lebih mengandalkan pihak lain (sub-kontraktor dan pemasok) sebagai stimulus inovasi.  Ketimbang bekerjasama dan berbagai pengetahuan, masing-masing pihak akan menggunakan keunggulannya sebagai senjata untuk bersaing dan menekan pihak lawan.   Meskipun demikian mereka beragumen bahwa sebenarnya dalam industri konstruksi  banyak terjadi inovasi, dan percaya bahwa sekecil apapun perubahan yang terjadi, sebenarnya banyak peluang untuk inovasi-inovasi lainnya di industri, baik di tingkat sektor industri, tingkat pengusahaan (business), maupun di tingkat proyek.  Pendapat ini menunjukan bahwa industri konstruksi sebenarnya merupakan industri yang kreatif dan terbuka terhadap inovasi.

 

C. Minimnya Kampus Teknik yang Memasukkan Mata Kuliah Etika Profesi Insinyur

Mata kuliah etika profesi insinyur bisa jadi sangat langka ada dalam kurikulum fakultas teknik. Di banding mata kuliah lain yang rumit dan penuh rumus panjang, mata kuliah etika profesi insinyur mungkin dirasa terlalu mudah untuk dimasukkan ke dalam kurikulum. Kejar2an cepat lulus juga mungkin menambah alasan kenapa mata kuliah yang sangat penting ini tidak dimasukkan ke dalam kurikulum karena dianggap hanya menambah beban untuk lulus dengan cepat.

 

D. Tingginya Kasus Korupsi di Konstruksi

Pada setiap kasus kegagalan konstruksi pasti akan diikuti oleh dugaan korupsi. Mengapa? Karena memang korupsi sudah sedemikian dekat dengan industri konstruksi. Saking dekatnya, bisa dikatakan telah menjadi budaya, walaupun tidak semuanya melakukan korupsi.

Sistem politik dan budaya masyarakat ditengarai menjadi penyebab utama dekatnya industri konstruksi dengan korupsi. Tengok saja kasus proyek Hambalang, stadion Gede Bage, dan kasus lainnya. Korupsi selalu dikaitkan dengan proyek konstruksi. Penyebab kegagalan konstruksi umumnya pada aspek teknis, namun penyebab tidak langsung seringkali adalah korupsi.

 

Alasan-alasan di atas, pada akhirnya mengerucut pada suatu kesimpulan bahwa etika profesi insinyur adalah suatu KEHARUSAN saat ini di Indonesia. Bagi saya, memasukkan mata kuliah ini ke dalam kurikulum fakultas teknik adalah WAJIB dan tidak bisa ditawar. Salah satu alasannya adalah selama berkecimpung di dunia konstruksi, banyak sekali pelanggaran etika ini baik secara sengaja, maupun tidak sengaja karena tidak tahu dan tidak diberlakukannya sangsi tegas bagi insinyur, serta rendahnya motivasi insinyur untuk mempertahankan dan mengembangkan kemampuannya saat bekerja, apalagi bagi yang telah mencapai posisi manajerial. Bahkan selama membimbing skripsi dan menguji lulusan yang melamar kerja, hanya sedikit mahasiswa yang sadar akan pentingnya menjaga dan meningkatkan kemampuan engineering yang telah didapat.

Dalam praktik konstruksi, menjaga etika profesi insinyur juga adalah hal yang krusial. Masih tingginya tindakan pelanggaran etika profesi insinyur menjadi sebab perlunya penegakan etika profesi insinyur di perusahaan konstruksi disamping pemberian teladan atas aplikasi etika profesi insinyur itu sendiri. Baik dari project manager ke staf, atau direksi ke para karyawan.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Peraturan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>