Bagaimana Mengatasi Kebocoran Atap Beton yang Paling Efektif dan Efisien ?

Ini barangkali adalah pertanyaan yang klasik tapi sering tidak terjawab tuntas bahkan menjadi perdebatan. Atap beton yang telah dilapisi waterproofing ternyata cukup sering masih mengalami bocor. Banyak cara telah dilakukan, namun kurang memberikan hasil yang baik. Tulisan ini akan memberikan solusi yang lebih efektif dan juga efisien secara menyeluruh

Kebocoran atap adalah risiko yang sering dikhawatirkan terjadi pada pekerjaan atap dengan material beton. Hal ini karena material beton walaupun memiliki kekuatan yang besar, namun bukanlah material yang benar-benar kedap air. Beton seperti yang diketahui merupakan material yang memiliki kemampuan tarik yang lemah sehingga gampang mengalami retak pada daerah tarik. Selain itu beton juga memiliki kelemahan pada sifat susutnya.

Banyak cara yang telah dilakukan untuk mengatasinya. Paling umum adalah dengan melapisi permukaan beton dengan material waterproofing. Tapi atap beton tetap saja masih bocor dan membuat kesal. Banyak yang beranggapan bahwa hanya dengan menambahkan lapisan waterproofing maka struktur pelat atap beton menjadi kedap air. Ini adalah KESALAHAN BESAR yang harus segera dikoreksi.

 

Dampak Kebocoran Atap Pelat Beton

Berdasarkan pengalaman berharga dalam mengerjakan proyek dimana terjadi problem bocor pada atap beton, akan disampaikan lesson learned pada tulisan ini untuk disain, pelaksanaan, dan perawatan atap beton yang lebih baik. Beberapa bagian yang bold adalah solusi yang paling direkomendasikan.

 

1. Disain Struktur Atap Beton

Dengan memahami karakter beton yang lemah pada daerah tarik sehingga potensi retak yang tinggi walaupun telah ditambahkan tulangan tarik, maka potensi struktur atap beton haruslah diupayakan memiliki kemampuan tarik yang lebih besar. Ini adalah upaya untuk mengurangi risiko retak. Prinsip ide adalah mengupayakan kemampuan tarik system pelat lebih tinggi daripada gaya tarik yang terjadi.

Disamping itu perlu untuk memperhatikan kemiringan atap untuk pengaliran air yang lebih lancar. Harus dihindari adanya genangan lama setelah hujan akibat kemiringan atap yang jelek. Genangan air yang lama setelah hujan adalah sumber potensi bocoran yang tinggi. Beberapa cara / design yang terbaik adalah dengan :

  • Memperkaku pelat atap dengan menambahkan balok anak.
  • Balok induk dan balok tepi dengan dimensi lebih tinggi (lebih kaku)
  • Lebar balok tepi minimal 25 cm
  • Kolom diteruskan hingga ke struktur atap untuk mengurangi bentang balok.
  • Kemiringan atap sebesar 3-5%
  • Hindari adanya tonjolan balok pada permukaan atap (lihat gambar)

 

Tonjolan Balok Pada Permukaan Pelat Atap

 

2. Kualitas Material Beton Untuk Atap

Berdasarkan fakta bahwa beton lemah atas kemampuan tarik dan sifat mudah mengalami retak susut, maka material beton harus didesign sebagai berikut :

  • Mutu beton disarankan minimal f’c 27,5 MPa (K300). Hal ini karena sifat beton yang akan memiliki kemampuan kedap air semakin tinggi apabila mutu beton semakin tinggi
  • Design slump lebih rendah (9-10 cm). Namun untuk menjaga kelecakan, dapat ditambahkan additive khusus.
  • Dapat ditambahkan material serat fibre untuk menambah kekuatan tarik pelat atap beton. Ini lebih direkomendasikan daripada penggunaan additive integral waterproofing.

 

3. Disain Sistem Drainase Atap

Sistem drainase atap adalah juga merupakan factor penentu dalam mengatasi kebocoran atap. Prinsip penting mengatasi kebocoran adalah dengan memperbesar debit pengaliran air hujan di atap. Semakin besar debit pengaliran, maka risiko bocor akan semakin kecil. Beberapa langkahnya adalah sebagai berikut :

  • Membuat saluran air kecil tiap 2-4 m2 atap pada lapisan screed yang saling terhubung dengan kemiringan 3-5%
  • Membuat saluran tepi dengan kapasitas memadai (untuk menghindari luapan air pada hujan ekstrim)
  • Jumlah roof drain memadai dan mengacu pada intensitas hujan ekstrim yang mungkin terjadi.
  • Maintenance rutin (minimal tiap bulan) terutama atas adanya lumut dan sampah lain yang dapat menyumbat system drainase atap

 

Disain dan Perawatan Drainase Atap Tidak Baik

 

Roof Drain Tersumbat Akibat Tidak Terawat

 

4. Metode Pelaksanaan Struktur Atap Beton

Metode pelaksanaan pelat beton atap merupakan faktor yang penting dalam mengurangi risiko kebocoran. Prinsip penting bahwa perlemahan akibat metode pelaksanaan yang berpotensi bocor haruslah diupayakan sekecil mungkin. Beberapa caranya adalah sebagai berikut :

  • Jumlah pengecoran pelat atap yang sesedikit mungkin bahkan harus diupayakan dapat dilakukan dalam sekali pengecoran. Untuk mengurangi volume sekali pengecoran yang besar, maka dapat dilakukan dua kali pengecoran secara vertical. Maksudnya, pengecoran pertama hanya pada balok induk dan balok anak hingga pada elevasi bawah pelat. Lalu tahap kedua pengecoran pelat.
  • Jika tidak memungkinkan untuk dilakukan dalam sekali pengecoran, maka harus dilakukan treatment khusus pada batas cor.
  • Harus betul-betul cek apakah penulangan telah terpasang baik sebelum pengecoran. Kesalahan fatal yang sering terjadi adalah terkait tebal selimut beton tulangan karena posisi tulangan atas dan atau bawah yang berubah menuju ke tengah pelat sehingga menurunkan kemampuan tarik beton secara signifikan.
  • Harus diupayakan tingkat kesegaran beton untuk menjamin kualitasnya.
  • Perawatan beton pelat atap beton disarankan lebih baik / ekstra dari struktur beton lainnya. Dapat dilakukan dengan cara rendaman air segera setelah pengecoran selama 7 hari. Selanjutnya dengan penyiraman.

 

5. Disain dan Pelaksanaan Sistem Waterproofing

Pada dasarnya apabila struktur pelat atap beton telah didesign kaku, mutu baik, dengan perkuatan yang memadai dan design kemiringan yang cukup, maka potensi bocor telah kecil. Namun, ketidaksempurnaan pekerjaan dan hal-hal yang tak terduga dapat menyebabkan atap beton menjadi bocor. Semakin luas atap beton, maka potensi ini juga akan semakin besar. Sehingga tetap dibutuhkan lapisan waterproofing. Rekomendasi system waterproofing akan berdasarkan kondisi kekakuan struktur, yaitu :

  • Pada kondisi kekakuan struktur tinggi, dapat menggunakan system waterproofing coating
  • Pada kondisi kekakuan struktur medium – rendah, disarankan menggunakan waterproofing membrane
  • Tidak disarankan menggunakan jenis waterproofing integral. Ini karena cara kerjanya yang lebih pada menambah kemampuan kedap dari pada menutup retak beton
  • Pemasangan waterproofing sebaiknya dilakukan selama mungkin setelah pelat atap beton tercor hingga sebelum pelaksanaan plafond.
  • Direkomendasikan untuk melakukan test rendam 3×24 jam sebelum dilapisi waterproofing. Ini untuk mengetahui lokasi perlemahan struktur yang berpotensi bocor. Adanya kebocoran harus diatasi dengan grouting atau langkah lainnya.
  • Memasang pelindung waterproofing dari screed dengan tambahan material fibre. Pola kotak luas maksimum 2-4 m2 dengan finish halus (untuk mengurangi hambatan air)

 

6. Lain-lain

Beberapa hal penting lain yang mendukung pencapaian kualitas atap beton yang handal adalah sebagai berikut :

  • Hindari beban berlebih di atap dan tanpa perkuatan khusus seperti tangki air, chiller AC, parapet dinding bata, dan lain-lain.
  • Hindari struktur pelat atap kantilever dengan bentang panjang. Upayakan maksimal bentang hanya 1.0 m. Jika lebih, harus dengan tambahan balok
  • Jangan melakukan pengeboran secara langsung pada pelat atap untuk dudukan equipment M/E atau keperluan lainnya. Buatlah pondasi setempat berupa pedestal kecil (misalnya uk 15×15 cm) sebagai dudukan untuk dibor. Sangat baik apabila pengecoran dudukan tersebut dilakukan bersamaan dengan pengecoran pelat lantai
  • Hindari memasang instalasi M/E setelah pekerjaan struktur pelat atap dan finishing dinding selesai. Bukaan lubang adalah tempat masuknya air

 

Lubang Instalasi M/E yang Menjadi Sumber Masuknya Air

  • Pastikan semua pekerjaan pemancangan atau pekerjaan dengan getaran besar lainnya selesai sebelum melakukan pengecoran atap beton atau pelapisan waterproofing. Geratan adalah musuh utama pelat beton apalagi dengan kekakuan kecil.
  • Hindari tinggi parapet dinding bata lebih dari 75 cm, apalagi dengan ornamen tambahan kantilver. Tambahan ornament untuk kebutuhan arsitektur sebaiknya menggunakan tambahan atau kombinasi material lain di atas parapet tinggi 75 cm.

Dinding Parapet Atap yang Tinggi

  • Lapisan waterproofing pada tepi bangunan sebaiknya menutupi seluruh balok tepi (bukan naik 20 cm di parapet dinding seperti yang umum dikerjakan sekarang). Karena ini adalah titik perlemahan kebocoran atap. Langkah lain adalah dengan membuat balok tanggulan beton kecil di atas balok tepi ukuran 15×15 cm yang dicor bersamaan dengan struktur pelat lantai atap. Lapisan waterproofing dilakukan hingga masuk 2-3 cm pada sisi atas balok tanggulan (lihat gambar)

Usulan Disain Pemasangan Waterproofing Pada Tepi Atap

Dengan melihat langkah-langkah penting di atas yang cukup banyak untuk menghindari kebocoran atap, dipastikan sebenarnya pada luas atap sangat besar sebaiknya tidak didesign dengan pelat beton. Setidaknya harus melakukan kombinasi pelat atap beton dengan jenis atap lainnya. Disamping itu, perlu di”NOTE” bahwa memilih jenis atap beton berarti akan ada konsekuensi design, pelaksanaan, dan perawatan yang harus lebih SERIUS. Perencanaan disain merupakan kunci paling penting. Semoga bermanfaat.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Kualitas and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bagaimana Mengatasi Kebocoran Atap Beton yang Paling Efektif dan Efisien ?

  1. Antoni says:

    Ya..sangat penting yang disebutkan diatas apalagi ketika membeli rumah bekas dan juga baru karena bisa banyak perbaikan jika tidak diperhatikan seperti yang disebutkan diatas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>