Kenapa Tidak Belajar Dari Kesalahan?

“Mana yang sering terjadi pada pelaku konstruksi di Indonesia, melakukan perencanaan yang lebih baik namun lebih sulit untuk pelaksanaan yang lebih baik atau belajar dari kesalahan yang jauh lebih mahal atau tidak belajar dari kesalahan?” Jawabannya adalah cenderung yang ketiga. Kenapa?

Fenomena

Problem ini hampir terjadi secara menyeluruh pada pelaku konstruksi di Indonesia. Menarik untuk dikaji dalam rangka meningkatkan kualitas konstruksi kita. Indikasi ini dapat terlihat pada beberapa kejadian yang rasanya sering terjadi :

  • Kontraktor merugi karena beberapa alasan yaitu ada beberapa item pekerjaan yang tidak diperhitungkan budgetnya, menggunakan harga saat ini dalam penawaran tanpa memperhitungkan inflasi, dan lemahnya mitigasi risiko terkait biaya.
  • Keterlambatan proyek akibat lambatnya keputusan oleh para pihak, ketiadaan satu atau lebih resources yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan (mismatch) atau akibat dari rendahnya produktifitas.
  • Slowdown atau penghentian proyek akibat lemahnya pendanaan dari pihak pemilik proyek.
  • Sering tidak tercapainya mutu beton pada bangunan bertingkat tinggi akibat dicampurnya beton dengan air untuk menambah kelecakan beton.
  • Tingginya bekerja secara lembur (overtime) di proyek.
  • Gagalnya commissioning karena kurang handalnya design dan kualitas system M/E.
  • Dispute cara memprogress pekerjaan antar pihak karena tidak tersedianya pedoman atau standart dalam menghitung progress pekerjaan.
  • Konflik pasal kontrak yang tidak seimbang (unbalanced contract) pada proyek swasta. Ini akibat ketiadaan standart kontrak di Indonesia.
  • Seringnya temuan auditor berupa selisih volume pekerjaan aktual dan gambar pada kontrak lump sum.
  • Kegagalan konstruksi jembatan yang terjadi berulang.
  • Dokumen RKS yang copas (copy-paste). Sehingga tidak singkron dengan dokumen lainnya.

Contoh-contoh di atas hanyalah sebagian dari berbagai kejadian yang menunjukkan betapa pelaku konstruksi lebih cenderung tidak belajar dari kesalahan

 

Apa yang Salah?

Kalau sudah menjadi fenomena, tentu masalahnya tidak hanya pada salah satu pihak konstruksi. Ini menyangkut aspek yang bersifat fundamental seperti budaya konstruksi semua pelaku, pola pikir dan sudut pandang masyarakat konstruksi, sistem pendidikan, sistem aturan konstruksi dan aturan lain yang mempengaruhi dunia konstruksi, serta hal lain yang bersifat mendasar yang sudah terjadi sejak lama.

Aspek fundamental yang disebutkan tadi, jika didetailkan lebih rinci dengan mengaitkannya dengan sikap cenderung tidak belajar dari kesalahan, mungkin dapat berupa beberapa hal sebagai berikut:

  1. Kecenderungan budaya instan. Sikap ini melemahkan kemampuan planning dan detail yang harusnya menjadi prioritas utama. Lemahnya kemampuan pendetailan dan perencanaan ini juga membuat kebanyakan pelaku proyek kurang mampu mengurai benang kusut atas tingginya kompleksitas proyek terutama proyek konstruksi. Akibatnya lesson learned kurang diperhatikan. Salah satu penyebab utama budaya instant ini adalah sistem pendidikan yang juga instant. 
  2. Budaya lebih menghargai hasil / output ketimbang proses. Budaya ini menyebabkan orang lebih cenderung melakukan apapun demi tercapainya target, sekalipun itu adalah cara yang tidak baik. Akibatnya proses pembelajaran yang harus melalui proses panjang dianggap cara yang kurang taktis dan efektif serta kurang dihargai. Sikap ini juga membuat pelaku proyek lebih memilih menyelesaikan masalah secara praktis dari pada antisipasi masalah yang harus berfikir lebih rumit. Sehingga banyak masalah kualitas diselesaikan dengan cara “make-up atau cosmetic method”.
  3. Rendahnya budaya introspeksi. Lihatlah kecenderungan untuk saling menyalahkan yang jauh lebih tinggi dari pada introspeksi diri. Ini tentu akan memicu sikap melempar kesalahan, memanipulasi data, pendekatan personal dengan atasan, argumentasi yang defensif, dan lainnya. Padahal intropeksi diri akan lebih mampu untuk mengarahkan organisasi pada arah yang lebih baik.
  4. Budaya “like and dislike. Budaya ini menghambat ide dan proses perkembangan “yang seharusnya” yang mungkin muncul dari pihak yang kurang disukai karena sikap-sikap tertentu seperti sikap kritis, tegas, idealis, kurang komunikatif, dan lainnya.
  5. Sikap serakah. Sikap ini mengedepankan penggunaan cara-cara tidak baik ketimbang cara-cara yang perlu ketekunan dalam proses yang sesuai dengan aturan dan ilmu pengetahuan yang ada. Sehingga melemahkan proses belajar dari kesalahan secara benar.
  6. Ketiadaan materi manajemen proyek dan keseriusan yang kurang. Dapat dilihat pada kurikulum fakultas teknik dan materi training perusahaan konstruksi. Hanya sedikit sekali yang memasukkan materi-materi manajemen proyek dalam kurikulum perkuliahan dan materi training di perusahaan. Kalaupun dilakukan training ini, namun dilakukan tidak dengan cara yang baik. Akibatnya ilmu manajemen proyek terdengar asing dan proses pengembangan berjalan di tempat
  7. Kurangnya perhatian pemerintah. Ini dibuktikan dengan ketiadaan beberapa standart manajemen proyek yang seharusnya sudah ada sejak lama seperti standart metode pengukuran pekerjaan, standart kontrak, dan standart lainnya.
  8. Pola pikir pihak owner lebih berkuasa. Pola pikir ini menyebabkan terjadinya kecenderungan pemilik proyek untuk bersikap otoriter. Ini membuat banyak institusi yang sering berada di posisi pemilik proyek sangat lemah dalam pengembangan sistem manajemen proyek. Dapat diperhatikan kecenderungan bahwa banyak konflik yang terjadi sebagian akibat dari gap kemampuan manajemen proyek antara penyedia jasa dan pemilik proyek dimana umumya pemilik proyek kurang menguasai disiplin ilmu ini. Pengecualian mungkin pada pemilik proyek swasta.
  9. Budaya “dagang sapi”. Uang dan “entertain” sering menjadi syarat kelancaran urusan dan pekerjaan. Budaya ini membuat pelaku proyek lebih cenderung menggunakan “jalur panas” ini ketimbang jalur lain seperti perbaikan sistem manajemen atau knowledge base dalam menghadapi permasalahan konstruksi.

 

Mungkin masih ada faktor lain yang menjadi penyebab kenapa pelaku konstruksi sering tidak belajar dari kesalahannya. Namun setidaknya faktor-faktor di atas dianggap cukup mewakili sebagian diantaranya. Mari kita perbaiki demi kemajuan dunia konstruksi di Indonesia.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Proyek, Proyek Indonesia and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Kenapa Tidak Belajar Dari Kesalahan?

  1. Deyvi says:

    mas, saya mahasiswi yang sndeag mengerjakan skripsi. Perusahaan yang terdaftar di BEI yang melakukan stock split pada periode 2006 sampai 2010 apa saja yaa (kalau bisa sampai 2011)? mohon bantuannya, trimaksih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>