Decision Criteria “Make or Buy” Pada Proses Procurement

Dalam proses procurement, dikenal istilah “make or buy”. Istilah ini sebenarnya adalah istilah untuk menentukan apakah lingkup pekerjaan dilakukan dengan cara dilakukan sendiri atau dengan cara beli jadi. Dalam konteks praktis dunia konstruksi, cara beli jadi dapat berupa melakukan subkontraktor.

 

Istilah tersebut sebenarnya sudah sangat familiar dalam procurement management. Tapi tidak bagi pelaku konstruksi. Sehingga, dalam pelaksanaannya seringkali keliru dalam menentukan paket pekerjaan yang ada apakah akan dilakukan dengan mengadakan sendiri (make) atau disubkontraktorkan. Padahal kesalahan ini dapat berdampak fatal bagi pelaksanaan proyek.

Untuk menghindari kesalahan serupa, berikut ini diberikan beberapa decision criteria dalam menentukan “make or buy” yang berdasarkan referensi dan pengalaman.

 

Decision Criteria “Make”

  1. Total biaya untuk alternatif make lebih rendah dibanding buy
  2. Total investasi untuk alternatif make lebih rendah dibanding buy
  3. Analisa cashflow proyek menunjukkan bahwa alternatif make lebih menguntungkan
  4. Adanya material atau metoda khusus yang dirahasiakan teknologinya
  5. Mobilisasi dari produk yang diperlukan sangat sulit sehingga harus dilaksanakan on-site
  6. Lebih mudah untuk melakukan kontrol waktu pengiriman secara langsung
  7. Adanya policy khusus dari perusahaan
  8. Ketergantungan dari produk yang akan dihasilkan memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi dengan pekerjaan lainnya.
  9. Tingkat kualitas produk yang dihasilkan diyakini hanya dapat dipenuhi jika dibuat oleh tim proyek sendiri
  10. Tambahan kompleksitas diyakini masih dapat dihandle.
  11. Tidak tersedia supplier yang kompeten
  12. Risiko lebih kecil jika dikerjakan sendiri

 

Decision Criteria “Buy”

  1. Total biaya untuk alternatif buy lebih rendah dibanding make
  2. Total investasi untuk alternatif buy lebih rendah dibanding make
  3. Analisa cashflow proyek menunjukkan bahwa alternatif buy lebih menguntungkan
  4. Adanya patent sehingga produk harus dibeli dari pihak luar
  5. Tidak tersedianya waktu yang cukup untuk memproduksi / menyediakan sendiri
  6. Menghindari efek dari potensi perubahan pekerjaan
  7. Tidak dapat memenuhi volume produk yang diperlukan secara konsisten jika dilaksanakan sendiri
  8. Persyaratan kualitas di luar kapasitas dan kemampuan perusahaan
  9. Supplier dari luar dapat memberikan garansi produk dengan lebih efektif
  10. Teknologi tinggi dari produk yang mengharuskan proyek untuk membeli
  11. Kompleksitas proyek dirasa sudah tinggi sehingga perlu diturunkan agar dapat well manage
  12. Risiko pekerjaan tinggi dan diperlukan risk transfer atau risk sharing

 

Untuk melengkapi decision criteria, berikut disampaikan alasan pemilihan untuk make dan buy hasil penelusuran.

Tabel alasan pemilihan make or buy

Menentukan “make or buy” harus dilakukan di awal proyek setelah lingkup pekerjaan terdefinisi dengan memperhatikan decision criteria di atas. Semoga ini dapat membantu dalam memperlancar pekerjaan proyek.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Pengadaan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>