Strategi Hemat Energi : Pemakaian Listrik Kantor dan Mess Proyek

Pemakaian listrik untuk operasional kantor dan mess proyek adalah hal yang kurang diperhatikan lantaran porsi biaya yang dirasa kecil terhadap nilai kontrak proyek. Posting ini akan mengubah pendapat anda tentang hal itu. Di samping akan mendapat benefit atas efisiensi biaya yang terjadi, tindakan ini juga adalah salah satu kontribusi dunia konstruksi terhadap kondisi perekonomian negara kita saat ini.

 

Perhitungan Biaya Listrik Kantor dan Mess

Pemakaian listrik kantor dan mess selama ini adalah hal yang dianggap kecil oleh sebagian besar kontraktor di Indonesia. Sah-sah saja karena memang memiliki porsi biaya yang kecil terhadap nilai kontrak proyek. Pada suatu perhitungan pemakaian listrik seperti yang tampak pada tabel di bawah, terlihat bahwa pemakaian listrik kantor adalah sebesar 242 kWh dengan durasi operasional 14 jam/hari. Lalu dengan asumsi memasukkan pemakaian listrik mess proyek sebesar 150 kWh, maka berarti total pemakaian listrik operasional kantor dan mess adalah sebesar 392 kWh/hari (dibulatkan menjadi 400 kWh/hari). Jika diambil harga listrik dengan pemakaian genset solar yang memiliki biaya Rp. 2800/kWh, maka total biaya listrik selama satu bulan adalah sebesar Rp. 33.600.000,- atau jika disetahunkan menjadi Rp. 403.200.000,-.

 

Tabel perhitungan kebutuhan listrik kantor

Perhitungan di atas apabila diaplikasikan pada proyek berdurasi panjang (> satu tahun), maka akan terjadi biaya pemakaian listrik yang cukup besar. Apabila nilai kontrak proyek adalah < Rp. 50 miliar, biaya tersebut setara hampir 1% biaya. Wow, siapa bilang ini hal kecil? Jika biaya tersebut bisa dilakukan tindakan efisiensi hingga 50% saja, tentu akan menjadi penghematan yang lumayan bukan? Apalagi jika dihitung pada keseluruhan proyek yang dikerjakan oleh suatu perusahaan konstruksi.

 

Langkah Efisiensi

Berikut ini adalah serangkaian tindakan / langkah yang mudah untuk diaplikasikan untuk menghemat pemakaian listrik kantor dan mess:

  • Gasifikasi. Tindakan ini berupa pemakaian listrik dengan sumber energi gas LPG tabung. Perlu diketahui bahwa biaya listrik dengan menggunakan solar dan gas berbeda sangat jauh. Listrik dengan solar biayanya saat ini adalah Rp. 2800,-/kWh. Sedangkan dengan gas biayanya adalah Rp. 750,-/kWh. Hanya diperlukan investasi genset gas untuk melakukan hal ini.
  • Mengganti AC biasa dengan AC inverter. Langkah ini juga dapat menghemat pemakaian listrik hingga 60%. Juga akan terjadi investasi awal yang lebih mahal, namun dengan masa investasi kembali yang relatif cepat.
  • Mengganti lampu TL dengan lampu essential. Terdapat jenis lampu yang jauh lebih irit yaitu jenis lampu LED, namun lampu ini masih sangat mahal sehingga masa pengembalian investasi yang sangat lama. Pemakaian jenis lampu LED akan lebih feasible jika harga lampu ini sudah jauh lebih murah dari harga yang sekarang.
  • Mengganti komputer PC dengan laptop. Hal ini karena daya listrik laptop sangatlah kecil dibanding dengan komputer PC.
  • Mengganti dispenser panas-dingin dengan dispenser biasa.
  • Memasang sensor listrik yang akan mati secara otomatis jika tidak digunakan
  • Memperbanyak bukaan untuk mengurangi pemakaian lampu
  • Melakukan langkah-langkah mengurangi kebutuhan penerangan seperti cat ruangan dan furniture dengan warna terang, menggunakan lampu tidak berlebihan atau sesuai dengan kebutuhan, membuat lebih banyak bukaan jendela dan menggunakan lampu meja untuk mengurangi lampu ruangan.
  • Melakukan langkah-langkah pengurangan kebutuhan pendinginan ruangan seperti menempatkan lokasi kantor dengan memperhatikan arah mata angin sehingga terhindar dari panas berlebihan, memasang glasswoll atau pelindung panas, mengurangi jumlah AC saat malam hari, dan menanam tanaman teduh disekitar kantor untuk mengurangi panas kantor.
  • Langkah lainnya seperti mengurangi durasi lembur bekerja di proyek

 

Dalam perhitungan penulis apabila serangkaian langkah di atas diaplikasikan, maka akan mampu mengurangi biaya listrik yang signifikan >70%. Jika biaya sebelumnya per tahun adalah Rp. 403.200.000,-, maka biaya setelah dilakukan efisiensi adalah 30% x Rp. 403.200.000,-/tahun = Rp. 120.960.000,-/tahun. Jika suatu perusahaan konstruksi besar memiliki jumlah proyek yang diekualisasikan sebanyak 50 proyek dalam setahun, maka tindakan efisiensi ini akan menghasilkan total efisiensi biaya sebesar 70% x Rp. 403.200.000,- x 50 = Rp. 14.112.000.000,-. Sehingga jika suatu perusahaan konstruksi mengeluarkan kebijakan hemat energi pada kantor proyek, maka akan menghasilkan penghematan yang luar biasa.

Lalu benefit terhadap ekonomi nasional yang saat ini sedang mengalami defisit transaksi berjalan dan jika dianggap ada sekitar 1000 proyek berjalan di seluruh Indonesia, maka pengurangan defisit transaksi berjalan adalah sebesar Rp. 403.200.000,- x 1000 = Rp. 403,2 Miliar. Jumlah ini tentu cukup signifikan membantu meringankan beban defisit transaksi berjalan Indonesia, apalagi diikuti oleh penghematan pemakaian listrik pada operasional lapangan proyek yang nilainya bisa mencapai 3-10 kali kebutuhan listrik kantor dan mess. Tentu akan menjadi sangat signifikan sumbangan dunia konstruksi Indonesia dalam memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia. Tersisa kesadaran kita, sadar atau tidak?

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Biaya, Riset, Inovasi & Teknologi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>