Strategi Hemat Energi Proyek : Optimalisasi Beban Energi Alat Tower Crane

Pada posting sebelumnya telah disampaikan mengenai prinsip penghematan energi di proyek. Pada posting ini akan fokus pada prinsip melakukan optimasi beban energi alat Tower Crane yang merupakan faktor yang paling besar dampaknya pada penghematan energi tersebut.

Dalam pelaksanaan proyek, beban energi pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu:

  1. Beban energi konstruksi (main equipment, alat bantu dan penerangan)
  2. Beban energi kantor proyek
  3. Beban energi lainnya (mess, transportasi, dan lainnya)

Pada kelompok beban energi di atas, beban energi konstruksi adalah yang paling besar diikuti oleh beban energi kantor proyek. Untuk mendapatkan penghematan paling besar, strategi ini haruslah dimulai direncanakan sejak awal, didukung oleh seluruh tim, dan dimonitor dengan baik dalam perjalanannya.

Beban energi konstruksi adalah yang paling besar sehingga patut diprioritaskan dalam pengambilan keputusan proyek. Kebutuhan energi terutama pada penggunaan alat-alat proyek seperti:

  • Tower Crane
  • Passanger hoist
  • Excavator
  • Bulldozer
  • Dump truk
  • Bar cutter dan bar bender
  • Pompa air
  • Alat las

Tower Crane (TC) merupakan alat konstruksi yang membutuhkan daya listrik / energi yang besar. Posting ini akan fokus pada strategi hemat energi di proyek pada penggunaan alat TC.

Pemilihan alat ini haruslah dilakukan dengan seksama. Hal ini karena pemborosan akibat perencanaan yang tidak optimal akan berdampak domino. Mengapa? Inilah rentetan dampak dominonya terhadap biaya:

  • Kapasitas TC lebih tinggi, maka biaya sewa TC lebih mahal.
  • Kapasitas TC yang lebih tinggi berarti size TC yang lebih besar. Ini berarti biaya mob-demob TC yang lebih besar.
  • Size TC yang lebih besar, berarti pula ukuran pondasi TC yang lebih besar.
  • Umumnya pada konstruksi gedung tinggi, dibutuhkan tie-ins. Sehingga dengan TC lebih besar, akan dibutuhkan alat tie-ins yang lebih besar karena gaya lateral yang lebih besar.
  • Kebutuhan daya listrik yang besar sehingga dibutuhkan ukuran kabel yang lebih besar.
  • Dibutuhkan kapasitas genset yang lebih besar (apabila menggunakan sumber listrik genset). Genset dengan kapasitas lebih besar berarti biaya sewa lebih mahal.
  • Kapasitas genset yang lebih besar, umumnya berarti ukuran genset yang lebih besar, sehingga biaya mob-demob yang juga lebih mahal.
  • Kapasitas genset yang lebih besar juga berarti dibutuhkan bahan bakar lebih banyak.
  • Genset yang lebih besar berarti dibutuhkan oli yang lebih banyak.
  • Dengan tingginya tingkat pencurian dan penipuan bahan bakar, maka potensi kerugian akan lebih besar.
  • Kapasitas genset yang lebih besar juga berarti kebutuhan oli yang lebih banyak
  • Konsumsi bahan bakar yang lebih besar berarti dibutuhkan tangki penyimpanan bahan bakar lebih besar.
  • Ukuran genset yang lebih besar juga berarti kebutuhan akan rumah genset yang lebih besar.
  • Apabila ada pemakaian dengan load kecil, berarti tingkat inefisiensi yang besar.

Kira-kira seperti itulah efek domino biaya yang terjadi apabila menganggap remeh perencanaan alat berat seperti Tower Crane. Dampak biaya ternyata cukup fantastis. Keseluruhan efek domino di atas, selain membuat biaya membengkak sangat tinggi, juga membutuhkan energi yang tidak sedikit. Rincian dampak domino atas biaya di atas, bisa jadi akan bertambah item dan quantitynya apabila perilaku kurang hati-hati dalam perencanaan kapasitas alat berat di proyek. Pendek kata, ini bukan urusan kecil bagi kontraktor.

Lalu, bagaimana strateginya?

Strategi optimasi terletak pada penentuan radius dan kapasitas angkat ujung serta kecepatan yang diinginkan. Ketiga faktor tersebut merupakan faktor penentukan kebutuhan energi TC. Prinsipnya adalah usahakan untuk menggunakan TC dengan radius secukupnya, kapasitas angkat ujung yang kecil tanpa mengorbankan operasional, dan kecepatan pemindahan material yang secukupnya serta jumlah TC yang sesedikit-mungkin. TC dengan radius layan, kapasitas angkat ujung, dan speed yang lebih kecil akan membutuhkan energi yang jauh lebih kecil. Ini point penghematan energi yang ditargetkan.

Pada radius jangkauan TC, ditentukan berdasarkan area kerja yang membutuhkan TC. Terkait dengan ini, biasanya berpengaruh pada kebutuhan jumlah TC. Pada banyak proyek, bentuk area yang dilayani TC berbeda-beda. Di sisi yang lain, persepsi kontraktor pun berbeda-beda sesuai pengalaman mereka. Namun, apabila kurang teliti dalam menentukan posisi dan radius layan TC, maka jumlah TC bisa jadi lebih banyak dari yang diperkirakan. Pada suatu proyek yang sama, kontraktor peserta tender bisa saja mengusulkan metode pelaksanaan dengan jumlah TC yang berbeda-beda. Kontraktor yang kreatif akan menghasilkan kebutuhan jumlah TC yang paling sedikit. Sehingga menurut penulis, kunci atas strategi ini adalah KREATIFITAS yang didukung oleh pengetahuan alat TC yang memadai.

Di sini akan diberikan beberapa strategi untuk mendapatkan penggunaan TC yang optimal. Strategi akan dikelompokkan berdasarkan radius layan yang berdampak pada jumlah TC, penentuan kapasitas angkat ujung TC, dan kecepatan TC.

Pada penentuan radius layan TC, hal yang menjadi pokok perhatian adalah bahwa TC dapat melayani pengangkatan material seefektif-mungkin dari sisi biaya. Pendekatan yang dapat dilakukan adalah berupaya agar rasio antara area layan aktual dan area layan yang tersedia setinggi mungkin. Di samping itu terkadang terdapat beberapa area yang tidak terjangkau oleh TC dengan radius tertentu terpaksa menggunakan TC dengan radius lebih besar yang berdampak pada rasio area layan mengecil. Beberapa pedoman terbaik berdasarkan pengalaman untuk mendapatkan rasio area layan sebesar mungkin adalah sebagai berikut:

  • Usahakan menempatkan TC di tengah sisi memanjang bangunan. Jangan menempatkannya di sudut atau sekitar sudut bangunan. Akan dibutuhkan lebih banyak TC jika ditempatkan di sudut.
  • Jika memungkinkan, tempatkan TC ke masuk dalam bangunan. Carilah area void bangunan. Menempatkan TC pada posisi ini sangat menguntungkan, karena pondasi TC dapat diikatkan pada pondasi bangunan dengan sloof tinggi sehingga ukuran TC dapat dikurangi. Perlu dicek kemudahan proses dismantling TC nanti jika telah selesai. Semakin TC mengarah ke tengah area layan, maka rasio area layan akan semakin besar. Terkadang diperlukan block-out / menginggalkan beberapa panel struktur untuk mendapatkan posisi TC paling ideal. Lalu pengerjaan sisa panel struktur dilakukan dengan alat lain seperti mobile crane atau secara manual dimana seluruh material yang dibutuhkan telah didekatkan oleh TC ke area tersebut sebelum TC dilakukan dismantling. Strategi ini adalah strategi yang terbaik.
  • Tempatkan stok material sedekat mungkin dengan area bangunan. Hal ini akan mengurangi radius TC di samping akan mempercepat proses pemindahan material nantinya.
  • Pada area bangunan yang tidak terjangkau, jangan buru-buru beranggapan bahwa radius TC perlu ditambah. Cek seberapa luas area yang tidak terlayani dan seberapa penting. Cek apakah ada cara lain yang mungkin dengan kondisi yang ada agar radius TC tidak diperbesar.
  • Hindari terjadinya double handling. Kejadian ini sangatlah tidak efisien kecuali sangat terpaksa.

Setelah mendapatkan rasio area layan TC yang sebesar mungkin, kemudian kita menentukan kapasitas angkat ujung. Banyak kontraktor selalu berfikir bahwa kapasitas angkat ujung haruslah diambil berdasarkan beban terbesar yang harus diangkat. Padahal pendapat itu belum tentu benar. Mengapa? Karena banyak kejadian menunjukkan bahwa berat beban angkat aktual bersifat acak dan kecil kemungkinan bahwa beban angkat terbesar adalah beban yang paling dominan secara frekuensi. Kenyataan menunjukkan bahwa variasi berat material yang diangkat mengikuti distribusi normal (lihat gambar)

Jika demikian, berarti beban terbesar merupakan beban dengan frekuensi terendah yang sama rendahnya dengan frekuensi beban terkecil atau berkisar 5-10% saja. Pertanyaan kritis adalah apakah kita akan merencanakan TC dengan kapasitas angkat ujung berdasarkan beban terbesar yang hanya memiliki frekuensi 5-10%? Apakah ini merupakan pemborosan yang nyata? Iya tentu saja menjadi pemborosan. Lalu bagaimana sebaiknya? Penulis merekomendasikan untuk menggunakan range beban modus. Berikut langkahnya:

  • Lakukan assesment mengenai variasi beban dalam bentuk range (misal tiap kelipatan 250 kg) dan nilailah frekuensinya dengan cara sederhana. Bisa dengan cara qualitative skala 1-10 atau skala 1-5.
  • Buatlah grafik untuk melihat sebaran besaran beban dan frekuensinya.
  • Ambil perencanaan kapasitas angkat ujung berdasarkan data modus tertinggi atau beban maksimum dimana dengan frekuensi yang paling tinggi.
  • Atasi beban besar yang lebih berat dengan beberapa cara. Misalnya mengurangi volume bucket cor pada pengecoran area struktur di ujung area layan TC. Bisa juga dengan menggunakan alat lain yang ada di proyek. Mungkin pada area itu akan sedikit lebih mahal tapi itu hanya dengan frekuensi yang kecil. Akan jauh dampaknya dengan menaikkan beban ujung TC.

Lalu yang terakhir adalah penentuan speed TC dalam melakukan pengangkatan. Perlu diketahui bahwa semakin tinggi speed maka kebutuhan daya listrik akan semakin besar. Pada tipe TC tertentu, disediakan TC dengan speed yang tinggi. Tujuan tipe ini adalah untuk meningkatkan kecepatan pekerjaan terutama pada gedung sangat tinggi. Kontraktor harus menilai dan memperkirakan kontribusi speed ini terhadap waktu / durasi pemindahan material oleh TC terhadap total durasi satu siklus pemindahan material. Jika speed berperan, maka penggunaan speed lebih tinggi akan membantu proyek dari sisi waktu. Namun apabila tidak signifikan, maka sebaiknya menggunakan TC dengan speed yang rendah. Pedoman prinsipnya adalah, pada bangunan rendah dan atau area tidak luas atau single handling, sebaiknya menggunakan TC dengan speed rendah dan demikian sebaliknya. Penilaian kontraktor menjadi penting dalam penentuan speed TC di sini.

Pada pelaksanaan, pemakaian TC sebaiknya diupayakan agar dengan rasio load aktual atas kapasitas angkat ujung yang setinggi mungkin. Pengangkatan material beban kecil sebaiknya digabung untuk mendapatkan rasio load setinggi mungkin. Jika ini benar terealisasi, maka bisa jadi pemakaian TC tidak perlu sepanjang hari pelaksanaan proyek. TC dapat dimatikan apabila semua material telah dipindahkan ke tempat yang direncanakan. Ini berarti penghematan yang cukup signifikan bukan?

Pelaksanaan proyek sering terjadi hal-hal yang tak terduga, termasuk dalam hal perencanaan TC. Ada baiknya setelah mendapatkan kriteria TC paling ideal dan hemat, kontraktor dapat memberikan sedikit safety factor sebagai antisipasi apabila ada hal yang tidak terprediksi yang tidak terencana sebelumnya.

Penjelasan di atas merupakan share penulis atas pengamatan pelaksanaan proyek. Harapannya pelaku konstruksi akan mendapatkan manfaat yang tinggi atas hemat energi dengan berfikir KREATIF. Project Manager haruslah mensosialisasikan program ini sejak awal dan harus didukung oleh seluruh tim proyek untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Semoga bermanfaat.

 

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Green construction, Manajemen Kontraktor, Smart Project Efficiency and tagged , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Strategi Hemat Energi Proyek : Optimalisasi Beban Energi Alat Tower Crane

  1. Assalamu’alikum.. Bagus Pak.. Ilmunya,,, Memang saya sangat merasakan juga pendapat bapak tentang distribusi beban TC juga Mengikuti Distribusi Normal.. itu artinya banyak Ineficiensi yang terjadi saat kita merencanakan TC itu sendiri Baik Kapasitas TC maupun operasionalnya…harus mengkaji lagi ya pak di Planning / Machine Managemen di awal khususnya banyaknya persepsi yang salah terhadap alat Angkat TC itu sendiri,…^^ Tks Ilmunya pak…, di tunggu tulisannya berikutnya y pak.hehheeh

  2. davica yuanda says:

    salam kenal pak,,,,
    masukan dan ilmu yang sangat mendukung,,,,
    tks,.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>