Construction Taste

Rasanya sudah tidak jamannya lagi membangun suatu bangunan konstruksi dengan asal-asalan. Perusahaan konstruksi besar saat ini beramai-ramai berusaha membentuk citra perusahaan konstruksi dengan cara meningkatkan construction taste. Wow..! Apa itu? Mari disimak…

Isitlah ini bukanlah istilah standar, namun bisa jadi mendekati dari apa yang dimaksud dalam tulisan ini. Bagi pembaca yang biasa di konstruksi, mungkin sudah bisa menebak apa yang dimaksud. Memang, agak sulit mendefinisikan taste / cita rasa. Akan lebih gampang menjelaskannya dengan banyak gambar.

Construction taste bisa saya anggap sebagai suatu seni / art dalam membangun. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jika cita rasa sudah bagus, maka output / hasilnya juga akan bagus. Penulis cukup yakin untuk melekatkan parameter construction taste sebagai predictor awal dalam memperkirakan hasil pekerjaan konstruksi. Sehingga jika dalam konstruksi suatu bangunan terlihat cita rasa yang rendah, maka diperkirakan hasilnya juga tidak akan bagus.

Untuk menggambarkan hal ini, Saya lalu mencari beberapa gambar pelaksanaan konstruksi di internet. Lalu dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok gambar awal, merupakan kelompok dengan construction taste yang tidak bagus. Sedangkan berikutnya adalah kelompok yang bagus. Ini menjadi perbandingan untuk merasakan perbedaan taste tersebut. Gambar kelompok pertama dan kedua tidak membandingkan secara point to point. Perbandingan lebih kepada aspek taste ketika menilai gambar tersebut. Berikut gambar pada kelompok pertama.

Gambar 1.1. Penataan Material Tidak Baik

 

Gambar 1.2. Pekerjaan Bekisting Asal-asalan

 

Gambar 1.3. Aspek Safety Tidak Diperhatikan

 

Gambar 1.4. Menggunakan Metode Konvensional Dalam Pengecoran

 

Gambar 1.5. Penataan Site dan Urutan Pekerjaan yang Salah

 

Gambar 1.6. Tidak Cerdas Mengatasi Masalah

 

Gambar 1.7. Pagar Proyek Tidak Rapi

 

Gambar 1.8. Pekerja Tidak Menggunakan APD

 

Gambar 1.9. Kualitas Tidak Diperhatikan

 

Gambar 1.10. Warna Terpal Tidak Seragam.

 

Kelompok di atas merupakan construction taste yang kurang baik. Secara kasat mata dapat dinilai sebagai berikut:

  • Lokasi site kotor dan berantakan.
  • Tidak jelas urutan pelaksanaan
  • Tidak memperhatikan Safety
  • Terkesan asal bekerja
  • Tidak memperhatikan kenyamanan
  • Tidak menggunakan metode yang baik dan efektif

Kelompok berikutnya akan ditampilkan gambar dengan construction taste yang lebih baik, rasakan perbedaannya.

Gambar 2.1. Lokasi Site Bersih

 

Gambar 2.2. Aspek Safety Sangat Diperhatikan

 

Gambar 2.3. Material Tertata Rapi

 

Gambar 2.4. Metode Pelaksanaan yang Lebih Baik

 

Gambar 2.5. Pekerjaan Terkesan Terencana Dengan Baik

 

Gambar 2.5. Pekerja Menggunakan APD dan Berseragam Khusus

 

Gambar 2.6. Lahan Proyek Rata, Tertata Rapi

 

Gambar 2.7. Material Tersusun Rapi Di Lahan Sempit

 

Gambar 2.8. Penggunaan Perancah yang Baik, Warna Seragam, dan Dilengkapi Pelindung

 

Gambar 2.9. Ada Rambu yang Didesain Baik dan Eye Catching

 

Gambar 2.10. Pekerjaan Pembesian yang Rapi

 

Setelah melihat gambar kelompok ke dua, maka kesan yang didapat adalah sebagai berikut:

  • Lokasi site bersih, rapi, dan tertata.
  • Penggunaan metode yang terbaik dan terlihat efektif
  • Safety sangat diperhatikan
  • Urutan pelaksanaan terlihat terencana baik
  • Kualitas sangat diperhatikan

Saya yakin pembaca akan mengatakan bahwa lokasi proyek yang baik, rapi dan terencana akan sangat nyaman. Bagi Pemilik Proyek, mungkin akan merasa yakin proyeknya telah terencana dengan baik. Tidak hanya itu, pekerja pun akan merasa betah dan semangat bekerja pada proyek yang construction taste nya bagus. Pekerja yang cenderung bekerja sembarangan, secara psikologis akan terpengaruh untuk ikut menjaga suasana rapi dan nyaman. Suasana proyek seakan tersulap tidak lagi stressfull dan kacau, tapi menjadi cukup menantang dan menyenangkan. Demikianlah construction taste yang digambarkan dalam posting kali ini. Semoga menjadi inspirasi para pelaku konstruksi di Indonesia.

 

Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Kontraktor, Metode Konstruksi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>