Risiko Struktur Bawah Gedung, Bagaimana Mengatasinya?

Tulisan ini berawal dari salah satu email yang masuk yang menanyakan mengenai risk respon terhadap risiko yang terjadi dalam pelaksanaan struktur bawah pada bangunan gedung. Saya berikan emailnya berikut:

“Pak Budi Suanda, saya Ga***, mahasiswa S1 teknik sipil yang baru saja membaca beberapa tulisan Bapak di blog Bapak. Menurut saya ini merupakan kumpulan tulisan yang sangat baik, yg dpt menambah pengetahuan pembaca, termasuk kami mahasiswa. Pak, saat ini kebetulan saya sedang dalam pengerjaan skripsi tentang manajemen risiko pada pekerjaan struktur bawah dari proyek gedung di Jakarta. Saat ini saya sedang dalam tahapan mengajukan rencana penanganan risiko. Kira-kira apa Bapak ada masukan referensi yang baik untuk berbagai respons risiko?… “

Sebelum saya sampaikan jawabannya, saya akan bercerita sedikit mengenai risiko pada struktur bawah bangunan gedung.  Struktur bawah gedung umumnya terdapat beberapa pekerjaan, yaitu:

  • Pondasi (pancang, bore pile, telapak, dll)
  • Galian tanah
  • Pile cap dan sloof
  • Raft Fondation (jika ada)
  • Dinding penahan tanah / retaining wall
  • Waterproofing (umumnya waterproofing membrane atau integral)
  • Urug tanah kembali dan pemadatan tanah

Masing-masing pekerjaan tersebut memiliki karakteristik risiko tersendiri. Namun secara umum risiko-risiko yang terjadi pada pekerjaan struktur bawah tersebut adalah:

  • Adanya sistem utilitas yang menggangu
  • Hujan yang dapat menggenangi area pekerjaan
  • Tingginya muka air tanah yang menghambat pekerjaan
  • Kondisi tanah yang tidak terduga.
  • Kondisi tanah yang sangat terpengaruh dengan muka air tanah.
  • Pergerakan tanah akibat galian tanah yang dapat mempengaruhi bangunan sekitar
  • Lahan yang sempit sehingga penggalian tanah tidak dapat dilakukan dengan metode open cut
  • Struktur dengan pembesian yang rapat.
  • Pada pekerjaan bored pile dapat terjadi keropos.
  • Tambahan pekerjaan yang tak terduga yang berdampak pada tambahan biaya
  • Risiko-risiko lainnya.

Terdapat cukup banyak risiko pada pekerjaan struktur bawah. Semua dikarenakan oleh dua hal yang utama yaitu tanah dan muka air tanah.  Pada pekerjaan gedung, pekerjaan struktur bawah terutama yang memiliki basement membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan struktur atas.  Di samping itu, bisa dikatakan bahwa salah satu kerugian proyek gedung disebabkan karena membengkaknya biaya pekerjaan struktur bawah. Hal tersebut dikarenakan banyaknya risiko-risiko yang terjadi pada struktur bawah. Sehingga memang penting untuk memahami perilaku dan risiko pada struktur bawah bangunan gedung.

Perencanaan pelaksanaan yang matang mutlak dilakukan sebelum memulai pekerjaan. Beberapa langkah penting dilakukan dalam mengatasi risiko-risiko tersebut berdasarkan pengalaman adalah sebagai berikut:

  • Mendapatkan data yang komprehensif mengenai jenis tanah, muka air tanah, jarak dengan bangunan sekitar, jenis pondasi bangunan sekitar, data hujan, as built drawing bangunan eksisting atau utilitas yang ada.
  • Melakukan penyelidikan tanah sendiri sebagai referensi tambahan hasil dugaan sementara atas data hasil penyelidikan tanah yang sudah ada. Hal ini untuk meningkatkan keyakinan atas kondisi tanah yang ada
  • Membuat galian setempat sedalam 1-2 m atau sesuai kebutuhan pada beberapa lokasi untuk mengetahui adanya utilitas eksisting
  • Menurunkan muka air tanah dengan metode dewatering dan recharging well.
  • Mengukur muka air tanah dengan instrumentasi khusus
  • Mengerjakan pekerjaan struktur bawah pada kondisi cuaca yang baik
  • Menyediakan tenda untuk menghindari air hujan jatuh pada lokasi galian
  • Mengukur pergerakan tanah dengan instrumentasi khusus
  • Membuat kemiringan yang cukup untuk mengalirkan air pada permukaan galian tanah, membuat saluran dan sumpit. Lalu menyediakan pompa submersible untuk memompa air keluar.
  • Menghitung efek galian terhadap pergerakan tanah yang dapat mempengaruhi bangunan sekitar
  • Menentukan metode galian yang paling sesuai dengan data yang ada. Jika metode open cut tidak memungkinkan, harus dibuat temporary retaining wall yang dapat pula berfungsi sebagai permanen retaining wall.
  • Menggunakan metode top-down jika konfigurasi dan sistem struktur memungkinkan
  • Menggunakan tipe waterproofing yang tepat
  • Mengukur pergerakan tanah dengan instrumentasi khusus
  • Meredesign struktur agar penulangan dapat dilakukan dengan mudah dan beton dapat masuk dengan baik
  • Membuat zone sesedikit mungkin untuk menghindari titik lemah masuknya air tanah.
  • Membuat metode penyambungan beton antar zone yang baik.
  • Menyediakan waterstop yang tepat pada sambungan beton untuk menghindari kebocoran
  • Menggunakan mutu beton yang agak tinggi. Karena mutu beton tinggi lebih kedap air
  • Menggunakan beton dengan fly ash agar meningkatkan workability pekerjaan.
  • Metode pengecoran sedemikian hingga beton tidak terputus yang dapat menjadi tempat masuknya air.
  • Menggunakan split yang lebih kecil agar beton dapat mengisi ke bekisting yang tipis pada dinding untuk menghindari adanya keropos yang menjadi tempat masuknya air tanah.

Beberapa tindakan atas risiko pekerjaan struktur bawah bangunan gedung yang disebutkan di atas sangat tergantung dengan kondisi yang ada. Untuk itu perlu mengkaji ketepatan risk respons berdasarkan kondisi yang ada.

Berdasarkan pengalaman, pekerjaan struktur bawah memang penuh dengan ketidakpastian. Semula muka air tanah dapat diperkirakan pada level tertentu dan diturunkan dengan menggunakan sumur dengan kedalaman tertentu serta pompa berkapasitas tertentu. Namun pada kenyataannya, hal tersebut sering meleset. Sehingga dalam perencanaan perlu ditambahkan suatu faktor aman yang cukup besar karena memang ketidakpastian parameter tanah dan air di dalamnya cukup tinggi. Perencanaan dengan tingkat kehati-hatian dan keamanan yang tinggi akan dapat mengurangi ketidakpastian sehingga pada akhirnya menurunkan probabilitas terjadinya risiko.

 

(Untuk berdiskusi dan konsultasi terkait permasalahan Project Management yang sedang dihadapi, silahkan klik – Konsultasi. Untuk melihat lengkap seluruh judul posting, silahkan klik – Table of Content.)
Did you like this? Share it:
This entry was posted in Manajemen Risiko and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Risiko Struktur Bawah Gedung, Bagaimana Mengatasinya?

  1. Galuh says:

    Wah terima kasih banyak Pak atas infonya yang dijadikan satu postingan tersendiri. Kalau mengenai galian setempat sedalam 1 – 2 m atau sesuai kebutuhan pada beberapa lokasi untuk mengetahui lokasi eksisting utilitas, kira-kira penentuan lokasinya itu bagaimana ya Pak, khususnya di Jakarta. Berdasarkan diskusi dengan seorang pakar dari suatu Kontraktor, saya dapat info kalau Pemkot Jakarta tidak memiliki data ataupun denah mengenai lokasi utilitas di wilayah Jakarta. Selebihnya mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua. Sukses terus untuk karir dan kegiatan menulisnya Pak.

  2. JUNO says:

    WAH pernjelasannya sangat Lengkap dan Akurat,
    mungkin faktor Alam pak yang bisa lebih di spesifik penanganannya misal curah Hujan pada daerah tempat yang akan di bangun tinggi sekali , Karena permasalahan air bukan saja dari tanah saja tapi bisa juga dari HUJAN dan LIMPAHAN BANJIR… mohon penjelasannya P Budi. trimakasih

    • budisuanda says:

      Dalam tulisan saya sudah menyampaikan masalah karena limpasan dan genangan air hujan, yg diatasi dengan membuat lahan tersebut memiliki kemiringan yang cukup, ditambah saluran sementara dan sumpit yg dilengkapi dengan pompa submersible.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

     

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>